Minggu, 27 Maret 2011

Wow...Indonesia Raih Tiga Medali Emas Olimpiade Sains


REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG--Indonesia meraih tiga medali emas, lima perak dan empat perunggu dalam kompetisi Olimpiade Sains Junior Internasinal ke-7 yang digelar di Abuja, Nigeria diwakili 12 pelajar tingkat SMP dari seluruh Indonesia. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional, Prof Suyanto di Tangerang, Banten, Senin mengatakan keberhasilan 12 pelajar yang mengikuti Olimpiade Internasional Sains Junior itu merupakan hasil pembinaan secara matang.

"Para pelajar yang dikirim ke Nigeria itu merupakan unggulan dari masing-masing sekolah kemudian dilakukan pelatihan selama empat bulan setelah itu mereka masuk karantina," kata Prof Suyanto ketika menyambut 12 pelajar peserta olimpiade di Terminal II-D Kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Senin dini hari.

Olimpiade Sains Junior Internasional itu diikuti 34 negara diantaranya Afganistan, Argentina, Brazil, Ghana, India, Iran, Mexico, Rusia, Taiwan, Thailand Zimbabwe serta Estonia. Namun dalam olimpiade tersebut Taiwan menjadi juara umum merupakan peringkat terbaik dalam teori, dan India urutan kedua serta Indonesia pada urutan ketiga.

Olimpiade Sains Junior itu adalah suatu ajang kompetisi tahunan pada bidang ilmu pengetahuan alam yang mencakup mata pelajaran Fisika, Biologi, Kimia dan matematika diikuti pelajar usia 15 tahun pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kompetisi itu untuk mendorong anak-anak muda mencintai ilmu pengatahuan alam dan mengembangkan komunikasi internasional dalam bidang sains.

Indonesia merupakan penggagas kegiatan internasional itu dan sebagai tuan rumah pertama yang digelar di Jakarta tahun 2004. Selain itu, rencananya olimpiade serupa tahun 2011 digelar di Kota Duran, Afrika Selatan dan tahun 2012 di India.

Menurut Suyanto para pelajar yang meraih medali di Nigeria itu akan diberikan kemudahan dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi di kota asal masing-masing serta mendapatkan beasiswa.
Para pelajar yang meraih medali emas yakni Muhamad Iqbal Ibrahim pelajar SMP Pribadi Depok, Jabar, Richard Akira Heru pelajar SMP DL Dominico Savio, Jateng, dan Fransisca Susan dari SMP St Ursula, Jakarta.

Peraih medali perak masing-masing I Made Gita Narendra Kumara dari SMP Negeri I Negara, Bali, Mikael Harseno Subianto dari SMP Susteran Purwokerto, Jateng, Putu Ivan Budi gunawan pelajar SMP Negeri I Tabanan, Bali, Yoga Rafinika dari SMP Sragen Bilingual Boarding School, Jawa Tengah serta Faisal Puji Nugroho pelajar SMP negeri 68 Jakarta.

Untuk pelajar yang meraih medali perunggu masing-masing Mardika Firlina dari SMP Pribadi School Bandung, Jabar, Titis Setiyobudi dari SMP Negeri I Kauman, Jawa Timur, Anang Rizki Muharom dari SMP Negeri II Semarang, Jateng dan Nurul Falahiyyah Bahri dari SMP Negeri I Sumenep, Madura, Jatim.

Jumat, 25 Maret 2011

Indonesia Bakal Kelebihan 300.000 Guru

DEPOK, KOMPAS.com — Pemetaan Kementerian Pendidikan Nasional menunjukkan jumlah guru di Indonesia mengalami kelebihan sekitar 300.000 guru. Hal tersebut dikatakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh saat menggelar jumpa pers penutupan Rembuk Nasional Pendidikan 2011 di Depok, Jumat (18/3/2011).
Kebutuhan guru kita jika dipetakan sampai 2014 itu lebih 300.000 orang," kata Nuh kepada wartawan.
-- Mohammad Nuh
"Kebutuhan guru kita jika dipetakan sampai 2014 itu lebih dari 300.000," kata Nuh kepada wartawan.
Pemetaan tersebut, lanjut Nuh, dilakukan melalui mekanisme yang ada pada saat ini. Jika diatur dengan komposisi 1 : 24 (1 guru mengajar 24 siswa), maka kelebihan tersebut bisa turun menjadi sekitar 180.000 guru.
Untuk itu, melalui program multigrade, guru bisa mengajar lebih dari satu pelajaran dan kelebihan jumlah guru bisa lebih diefisiensikan menjadi 40.000 guru.
"Dengan komposisi 1 : 24 itu, kelebihan guru bisa turun menjadi 180.000 guru. Jika diatur lagi kebutuhannya dengan multigrade, satu guru tidak hanya mengajar satu mata pelajaran, tetapi bisa dua atau tiga mata pelajaran yang sekelompok. Maka dar itu, kelebihan jumlah guru bisa turun hingga 40.000 orang," papar Nuh.
Nuh menambahkan, jika konsep multigrade tersebut dimanfaatkan dengan baik menggunakan penataan regulasi yang juga baik, bisa dibayangkan efisiensi yang dihasilkan. Karena dengan konsep itulah seorang guru Matematika, misalnya, bisa juga mengajar Fisika. Karena memang, setiap guru diberikan kewenangan mengajar sesuai kelompok pelajaran yang dikuasainya.
"Ada pelajaran mayor dan ada pelajaran minor. Mayornya tetap satu, tetapi minornya bisa dua atau lebih," ujar Nuh.
Ia mengatakan, konsep multigrade memungkinkan pemerintah menghemat hingga miliaran rupiah. Penghematan tersebut dapat digunakan untuk pengembangan guru, beasiswa, dan penambahan fasilitas.