Jumat, 25 Maret 2011

"Silakan Bubarkan, RSBI Cuma Cap!"

DEPOK, KOMPAS.com — Evaluasi terhadap rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) perlu dilakukan secara menyeluruh untuk mencapai hasil yang terbaik. Hal tersebut diungkapkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN RSBI 1 Depok Wirdan Ahyar, Jumat (25/3/2011).
Bahkan, jika harus dibubarkan, kami tak masalah karena jaminan mutu lebih baik daripada label RSBI itu sendiri. RSBI itu cuma cap.
-- Wirdan Ahyar
”Jika RSBI ingin dievaluasi, saya setuju karena semua hal perlu dievaluasi untuk mencapai hasil yang terbaik. Bahkan, jika harus dibubarkan, kami tak masalah karena jaminan mutu lebih baik daripada label RSBI itu sendiri. RSBI itu cuma cap,” kata Wirdan.
Wirdan menambahkan, hal utama yang perlu dievaluasi adalah soal sumber dana, sarana, dan prasarana, serta sumber daya tenaga pendidiknya. Untuk sumber dana, lanjut Wirdan, perlu dipertanyakan apakah pemerintah memberikan bantuan yang sama atau lebih kepada RSBI.
”Sangat tidak adil kita menyoroti RSBI yang dianggap mahal. Anggaran dari pemerintahnya sama, tetapi tuntutannya luar biasa,” tutur Wirdan.
Sementara untuk sarana dan prasarana, berbagai laboratorium di sekolah sifatnya wajib untuk RSBI. Fasilitas itu sama halnya dengan tenaga pendidikan. Namun, Wirdan menilai, terkait hal itu belum juga ada langkah konkret dari pemerintah pusat dan daerah untuk mengangkat pegawai pustakawan dan guru laboratorium sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
”Untuk laboratorium, alatnya tidak pernah dibelikan dan pegawainya tidak pernah diangkat sehingga beban kami semakin berat. Ini masalah tersendiri mengapa RSBI lebih mahal dari sekolah reguler lainnya,” ujar Wirdan.
Wirdan mengatakan, sebagai pengelola sekolah pihaknya tidak bermaksud meminta lebih. Baginya, adalah wajar jika akhirnya pembiayaan itu menjadi lebih mahal karena yang membayar lebih sedikit dengan kebutuhan lebih banyak.
SMAN 1 Depok menjadi RSBI sejak empat tahun lalu. Program RSBI di sekolah ini terdiri dari 21 ruang kelas yang diisi 32 siswa di setiap kelasnya.
Sejak menjadi RSBI, menurut Wirdan, prestasi siswanya terus meningkat. Antusiasme masyarakat yang mendaftar juga melonjak lebih dari 100 persen. Yang semula hanya 400-500 pendaftar, setelah RSBI jumlahnya naik menjadi lebih dari 1.000 pendaftar dengan jumlah siswa yang diterima lebih sedikit, yaitu hanya 224 siswa yang lolos seleksi.
”Siapa pun bisa masuk sekolah RSBI, asalkan lolos dalam seleksi,” kata Wirdan.

Rusia Tawarkan Beasiswa S-1 sampai S-3

KOMPAS.com — Pemerintah Federasi Rusia kembali menawarkan beasiswa kepada pelajar Indonesia untuk studi di Rusia. Program beasiswa yang dibuka tahun ini meliputi jenjang S-1, S-2, dan spesialisasi sebanyak 35 beasiswa, serta S-3 dan post-doctoral sebanyak 10 beasiswa.
Bagi yang berminat, persyaratan yang harus dipenuhi untuk pelamar beasiswa S-1 adalah nilai ijazah rata-rata 8,0 untuk mata pelajaran yang sesuai program studi tujuan, tidak ada angka merah untuk mata pelajaran lain, dan melengkapi berkas-berkas yang diperlukan.
Syarat utama untuk pelamar beasiswa S-2, kandidat harus memiliki IPK minimum 2,75 dengan usia maksimal 28 tahun atau tiga tahun setelah tamat S-1, dan melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Adapun beasiswa yang tersedia untuk bidang Ilmu Alam, Teknik, Sosial, dan Humaniora. Untuk Ilmu Hukum dan Ilmu Politik, masing-masing hanya tersedia satu kuota dan Kedokteran hanya tersedia tiga kuota.
Sementara itu, untuk beasiswa S-3, pelamar harus lulus S-2 dengan pengalaman kerja sesuai spesialisasi, berusia maksimal 35 tahun, dan membuat proposal singkat maksimal dua halaman bertema penelitian ilmiah dengan menyertakan daftar judul publikasi (kalau ada). Khusus lulusan Rusia, proposal dibuat dalam bahasa Indonesia dan Rusia dengan melengkapi berkas-berkas yang diperlukan, berkas lamaran dimasukkan ke dalam map hijau (dibuat masing-masing rangkap dua).
Untuk beasiswa post-doctoral, pelamar telah lulus doktoral dan memiliki pengalaman kerja sesuai spesialisasi. Usia pelamar maksimal 45 tahun dan harus membuat proposal singkat maksimal dua halaman tentang tema penelitian ilmiah dan menyertakan daftar judul publikasi (kalau ada).
Selain itu, pelamar juga harus menyertakan surat rekomendasi dari dua profesor. Khusus lulusan Rusia, proposal dibuat dalam bahasa Indonesia dan Rusia serta melengkapi berkas-berkas yang diperlukan.
Bagi yang berminat, pelamar akan melewati tiga tahap seleksi, yaitu seleksi lamaran, wawancara, dan lulus wawancara yang selanjutnya berkas dikirim ke dan diseleksi oleh Kementerian Pendidikan Rusia.
Adapun skema beasiswa yang akan diterima kandidat adalah biaya pendidikan selama jenjang pendidikannya S-1 (5 tahun), S-2, S-3, dan post-doctoral (3 tahun), uang saku per bulan 1.100 rubel atau 37,2 dollar AS untuk S-1 dan S-2, atau uang saku per bulan 1.500 rubel atau 50,8 dollar AS untuk S-3 dan post-doctoral.
Selain itu, S-1 dan S-2 akan mengikuti fakultas persiapan selama satu tahun untuk belajar Bahasa Rusia. Mereka akan tiba di Rusia bulan September, sedangkan untuk program S-3 dan post-doctoral tiba di Rusia pada Desember.
Pemerintah Rusia akan menanggung tiket pesawat Jakarta-Moskwa (lebih kurang 900 dollar AS). Kandidat juga akan menerima uang saku untuk pengeluaran pribadi minimal 300 dollar AS per bulan dan polis asuransi kesehatan 250 dollar AS, kecuali untuk kota-kota tertentu di selatan dan timur Rusia. Penerima beasiswa juga akan disediakan asrama mahasiswa yang ongkos sewanya dibebankan kepada penerima beasiswa (lebih kurang 30 dollar AS per bulan).
Pendaftaran dibuka mulai dari 23 Maret 2011-14 April 2011. Pelamar bisa menghubungi Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, Jalan Diponegoro 12, Menteng, Jakarta Pusat, di nomor 021 319 35290.